Skip to content Skip to footer

Kisah Inspiratif Kristen dalam Buku Anak Perdamaian

kalamhidup.com – Kisah inspiratif dan nyata yang ditulis oleh Don Ricahrdson[1] sebagai kesaksian dari perjalanan misinya di pedalaman rimba Papua untuk mengenalkan Yesus menjadi kisah inspiratif Kristen sepanjang masa. Tidak pernah terbersit sedikit pun dalam benak Don dan istrinya, Carol, bahwa mereka kelak akan bertemu dengan salah satu suku di Papua. Suku itu memiliki pandangan hidup yang sangat aneh, bahkan mengerikan, ketika mereka melayani di sana.

Pergumulan mereka dan keberhasilan mereka memenangkan suku Sawi bagi Tuhan itulah yang kemudian diceritakan dalam buku Anak Perdamaian –salah satu buku rohani Kristen yang bertema penginjilan dan sangat inspiratif.

Buku Rohani Kisah Inspiratif yang memuat Kesaksian Pelayanan misi di pedalaman papua
Buku Rohani yang memuat Kesaksian Pelayanan misi di pedalaman papua.

Pengkhianatan sebagai Filosofi Hidup

Suku Sawi adalah salah satu suku yang tinggal di pedalaman Papua. Rumah mereka biasanya berada di atas pohon. Selain untuk menghindari hewan pemangsa, rumah seperti itu juga berguna untuk melindungi mereka dari musuh. Di atas rumah itu mereka bisa melihat dari jauh dan dapat memanah dari atas jika musuh mendekat.

Satu hal yang sangat membedakan suku Sawi dengan suku lainnya adalah pandangan hidup mereka. Pandangan itu diajarkan dan diterapkan secara turun-temurun. Mereka menganggap bahwa pengkhianatan adalah sesuatu yang bernilai tinggi. Bahkan, “menggemukkan dengan persahabatan” menjadi nilai tertinggi dalam pandangan mereka. Artinya, seseorang dianggap sangat hebat jika dapat membunuh orang yang sangat percaya kepadanya. Bagi mereka, adalah kepuasan ketika orang yang akan dijadikan korban lebih dahulu dibuat percaya kepada mereka dan menjalin persahabatan dengan mereka. Korban secara halus dan nyaris tidak disadari dibuat percaya sehingga mengikat persahabatan. Ketika kepercayaan itu sudah tumbuh, bahkan menjadi sahabat, pada saat itulah si korban akan dibunuh secara tiba-tiba.

Konflik Batin

Don dan istrinya, Carol, menghadapi konflik batin yang luar biasa dalam pelayanannya. Selain harus menghadapi rimba Papua yang memiliki cuaca yang cukup ektrem, mereka jaga harus diperhadapkan pada masalah bahasa (rumitnya memahami dan menerjemahkan tata bahasa suku Sawi yang sangat kompleks). Tidak hanya itu, mereka juga harus menghadapi perang saduara dan perang suku yang kerap terjadi karena dilatarbelakangi pandangan hidup suku Sawi yang memuja pengkhianatan.

“Apakah mungkin memberitakan Injil kepada mereka yang suka berperang dan memiliki pandangan seperti itu?” begitu pertanyaan yang timbul dalam diri mereka.

Namun, mereka tidak menyerah. Mereka tahu bahwa Tuhan sudah menuntun mereka kepada suku itu. Jadi, Tuhan jugalah yang akan membukakan jalan bagi mereka agar mereka mengenal Injil keselamatan.

Tuhan Membuka Jalan

Pendekatan Don dan Carol yang  tidak kenal menyerah terhadap suku Sawi membuahkan hasil. Mereka dapat merumuskan bahasa sawi sehingga dapat berkomunikasi dan memberitakan Injil secara sederhana dalam bahasa mereka. Bahkan, mereka kemudian menemukan tradisi yang dipercayai suku itu secara turun-temurun tentang “anak perdamaian”.

Dalam tradisi Suku Sawi , perdamaian atau berakhirnya suatu peperangan hanya dimungkinkan jika ada “anak perdamaian”. Dalam hal itu, setiap pihak yang bertikai akan saling bertukar anak untuk diasuh oleh pihak masing-masing, yaitu menjadi anak perdamaian. Pihak A memberikan anaknya kepada pihak B, demikian sebaliknya, sehingga kedua pihak nantinya harus mengasuh anak itu sebagai tanda kesungguhan bahwa ada perdamaian di antara mereka.

Tradisi tentang “anak perdamaian” itulah yang diinspirasikan Tuhan kepada Don dan istrinya sebagai jalan bagi mereka untuk mengenalkan “Anak Perdamaian” yang sejati. Jika anak perdamaian di dalam suku Sawi bisa mati sehingga bisa timbul lagi peperangan, Anak Perdamaian yang sejati tidak akan bisa mati sehingga perdamaian itu akan tetap berlangsung .

Pemahaman itulah yang lambat laun mengubah suku Sawi. Kehadiran Anak Perdamaian yang sejati, yang kemudian dipercayai oleh mereka, berhasil menghancurkan kepercayaan yang sudah berlangsung turun-temurun itu.

Ikut Terbawa dalam Cerita

Teknik tuturan yang digunakan oleh Don ketika menceritakan kisahnya dalam buku Anak Perdamaian ini seakan membawa kita, pembacanya, masuk ke dalam rimba belantara di Papua. Kita seakan-akan dapat meyaksikan sendiri secara langsung lebatnya rimba di sana, burung-burung yang berkicau, hewan liar, cuaca yang ektrem, bahkan ekspresi dan konflik batin setiap tokoh yang diceritakan di dalamnya: kesedihan, kekecewaan, ketegangan, keangkuhan, kebahagiaan.

Kisah Inspiratif

Kisah inspiratif ini menegaskan bahwa Tuhan dapat membuka berbagai jalan walaupun keadaan sepertinya tidak memungkinkan. Bahkan, jalan-Nya kerap tidak terpikirkan dan sudah disediakan-Nya.

Jika ingin ikut tenggelam dalam kesaksian nyata penulis buku ini, Anda dapat membacanya langsung dari bukunya. Buku Anak Perdamaian dapat diperoleh di toko buku rohani Kristen terdekat. Anda pun dapat ke Toko Buku Kalam Hidup, baik langsung maupun secara daring.

Tjep Adiparta Sairoen

Leave a comment