Skip to content Skip to footer

PEREMPUAN DALAM ALKITAB

Perempuan Samaria di Sumur Yakub (Yohanes 4:1-42)

kalamhidup.com –  Perempuan, Ada banyak kisah menarik dan inspiratif tentang mereka dalam Alkitab yang sangat hebat. Salah satunya adalah perempuan Samaria di sumur Yakub. Dalam Yohanes 4:1-42 diceritakan kisah pilu seorang wanita Samaria yang telah menukar kesucian hidupnya dengan kehidupan yang asusila. Perilakunya yang buruk harus dibayar dengan rasa malu karena ia dicibir dan menjadi bahan pergunjingan. Akibatnya ia menarik diri dari pergaulan dan hidup terasing di tengah keramaian.

Dalam kesehariannya ia menjadi sosok yang rendah diri, minder, dan merasa tertolak. Karena itu ia berusaha menghindar dan sedapat mungkin kalau bisa tidak berjumpa dengan orang lain. Ia bahkan sudah tidak sanggup mengangkat mukanya melihat tatapan sinis orang-orang di sekitarnya. Itulah sebabnya pergi ke sumur diterik matahari siang adalah pilihan terbaik. Ia tidak mau mengambil resiko pergi ke sumur di sore hari ketika cuaca lebih sejuk, pikirannya hanya satu…ia ingin menghindar dari masyarakat yang umumnya  mengambil air bagi kebutuhan sehari-hari di sore  hari. Hidupnya sungguh memprihatinkan, ia tidak punya banyak teman apalagi sahabat.

Demikianlah resiko pahit yang harus ia tanggung karena di desa kecil seperti Sikhar, aib semacam itu pasti sangat menonjol dan sulit ditutupi.

 

Tuhan Yesus dan Perempuan Samaria

 Di tengah keterpurukan hidup yang seolah tanpa harapan ia harus melanjutkan kehidupan. Di suatu siang yang terik ia memberanikan diri untuk keluar rumah. Ia bergegas menapaki jalan berdebu agar cepat sampai ke sumur tua yang disebut sumur Yakub untuk mengambil air.

Dari kejauhan sudah nampak ada seorang laki-laki yang sedang duduk di dekat sumur yang ditujunya. Setelah dekat, ia melihat dari pakaian dan ciri lainnya, ia pastikan bahwa Orang itu adalah seorang Yahudi. Terpikir dalam hatinya, ngapain Orang itu ada di situ? Sejujurnya ia merasa tidak nyaman, jangan-jangan Orang Yahudi itu akan menyakiti dirinya. Ia sadar bahwa orang Yahudi bukanlah kelompok orang yang ramah terhadap orang Samaria.

Ia tahu benar orang-orang Yahudi menaruh kebencian yang sudah berurat akar terhadap bangsa Samaria yang sebenarnya masih saudara mereka juga.  Saking bencinya, jika seorang Yahudi ingin pergi dari Yudea ke Galilea, seharusnya rute terdekat adalah melalui Samaria. Namun bagi orang Yahudi lebih baik mereka mengambil jalan memutar yang lebih jauh ketimbang berjumpa orang Samaria. Semua pikiran itu menggelayut dalam hatinya, namun karena ia membutuhkan air, maka dengan enggan ia pun mendekati Orang itu di tepi sumur. Perjumpaan dengan Yesus yang tidak terduga itu, ternyata menjadi titik balik yang mengubah kehidupan dirinya. Ia dipulihkan dan bahkan kemudian menjadi saksi Kristus yang luar biasa.

 

Pelanggaran Terhadap Adat Istiadat

Kisah perjumpaan perempuan Samaria dengan Yesus di tepi sumur Yakub menunjukkan cakupan pelayanan Yesus yang bersifat lintas budaya, tanpa diskriminasi rasiak dan gender. Kisah itu sangat menarik karena apa yang dilakukan Yesus sesungguhnya tergolong sebagai “pelanggaran serius” terhadap adat istiadat yang melarang orang Yahudi bergaul dengan orang Samaria. Karena itu tindakan Yesus berjumpa dengan perempuan Samaria apalagi ngobrol berduaan di tempat sepi dianggap sebagai tindakan yang tidak patut dan diluar kelasiman. Kedudukan seorang tokoh agama dalam komunitas Yahudi selalu ditempatkan pada posisi terhormat.  Adalah tabu jika seorang tokoh agama Yahudi berbicara berduaan dengan seorang perempuan. Dan memang belum pernah terjadi ada guru Yahudi terhormat yang mau berbicara dengan seorang perempuan apalagi dengan perempuan Samaria di tempat umum.

 

Diskriminasi Gender

Diskriminasi gender terhadap perempuan Samaria dan secara umum, memang masih kerap terjadi dari zaman Perjanjian baru bahkan hingga kini. Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria di sumur Yakub yang menggunakan analogi “air hidup” dapat dikatakan merupakan langkah berani dan  menjadi pintu masuk yang mendobrak praktik ketidakadilan dan diskriminatif tersebut.

Yesus memang merupakan tokoh pertama yang pro terhadap kesetaraan gender dan rasial. Ia tanpa ragu menolak perlakuan minus terhadap orang Samaria dan ingin menempatkan perempuan (orang) Samaria pada posisi terhormat. Sikap dan pembelaan Yesus terhadap kaum perempuan memang tampak nyata dalam beberapa kesempatan. Yesus secara terbuka menunjukkan keberpihakan-Nya kepada kaum perempuan sebagai bagian penting dalam kehidupan dan pelayanan. Sebagai contoh, Yesus menyertakan perempuan-perempuan dalam pengajaran dan pelayanan penyembuhan-Nya (Mar. 1:29-31; Luk.8:43-48; 10:38-42), Ia memperlakukan kaum perempuan dengan baik dan hormat (Yoh.8:1-11), dan menyambut perempuan-perempuan sebagai pengikut-Nya (Mark.15:40-41).

 

Urgensi Kesetaraan Gender

Sikap Yesus terhadap perempuan Samaria sejatinya memberi pesan penting bahwa keberadaan orang-orang Samaria sebagai satu entitas (bangsa) tidak boleh didegradasi. Apa pun alasannya setiap orang berharga di mata Tuhan. Terobosan yang dilakukan Yesus sesungguhnya dapat menjadi contoh tentang integritas diri pelayan Tuhan. Tuhan Yesus berani menentang ketidakadilan dan lantang menyuarakan kebenaran.

Dari sini dapat dikatakan bahwa  motivasi pelayanan sejatinya harus dilandasi kesadaran akan kesetaraan, serta kasih kepada sesama. Hal ini harus diejawantahkan dalam kesediaan yang tulus menolong mereka yang membutuhkan apapun resikonya. Tentu saja keberanian seperti ini layak menjadi model dan inspirasi. Pelayanan masa kini ada di tengah-tengah kepungan isu-isu diskriminasi rasial dan gender. 

Peran penting kaum perempuan di berbagai arena kehidupan sejak dulu hingga kini sudah tak perlu diragukan lagi. Di dalam Alkitab contohnya, banyak dicatat tokoh perempuan dengan segala kiprahnya. Ada yang menorehkan prestasi gemilang tetapi juga ada yang menjadi pecundang. Dari mereka kita, terutama kaum perempuan dapat memetik banyak pembelajaran sehingga menjadi pribadi yang tangguh yang kehadirannya selalu diperhitungkan karena memberi dampak yang positif.

 

Rekomendasi Buku Tentang Perempuan

Ia dinamai Perempuan
Ia Dinamai Perempuan

Jika Anda tertarik mempelajari dan belajar dari banyak perempuan hebat, kami merekomendasikan sebuah buku rohani terbitan Kalam Hidup karangan, Gien Karsen yang berjudul, IA DINAMAI PEREMPUAN. Buku setebal 433 halaman ini memuat kisah 48 tokoh perempuan dalam Alkitab mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru. Buku ini sangat enak dibaca, narasinya ditulis dalam bahasa yang sederhana sehingga alur ceritanya mengalir dan enak dibaca. Miliki buku ini Anda pasti diberkati.

 

Yupiter Sepaya

Leave a comment