Skip to content Skip to footer

ANAK BERMORAL DAN BAGAIMANA MEMBINANYA? – RESENSI BUKU ROHANI KRISTEN

DUNIA ANAK DEWASA INI DAN KECEMASAN ORANG TUA

kalamhidup.com – Anak bermoral baik menjadi kerinduan setiap orang tua. Tapi, bagaimana orang tua mewujudkannya? Don S. Otis mengawali buku ini (Membina Anak Bermoral) dengan satu pertanyaan penting, “Apa saja yang diperlukan untuk membina anak yang bermoral dalam dunia masa kini?” Pertanyaan ini pasti mewakili banyak kegelisahan orang tua Kristen di seluruh dunia. Mengapa demikian, karena dunia anak-anak masa kini sangat berbeda dengan dunia yang dikenal orang tuanya di masa lalu. Masalahnya, di zaman digital sekarang ini tantangan terhadap iman Kristen sudah sangat nyata. Godaan dari tren-tren budaya baru yang tak terhindarkan yang potensial membelokan anak-anak dari sistim nilai atau moralitas yang alkitabiah.

Sejujurnya banyak orang tua masa kini yang khawatir. Takut anak mereka terjerumus dan terbawa arus kekacauan moral yang akhirnya menghancurkan kehidupan mereka. Di tengah keresahan orang tua, Don Otis sadar bahwa tantangan di era kini tidaklah mudah. Untuk itu ia menyediaan berbagai informasi dan gagasan berharga dalam buku ini. Hal tersebut dapat menjadi referensi para orang tua mengarahkan anak-anaknya melewati berbagai gejolak yang dihadapi.

PERGESERAN NILAI SOSIAL BUDAYA – RUNTUHNYA KEWARASAN

Nubuat yang disuarakan nabi Yesaya ribuan tahun lalu kini mulai menjadi kenyataan, “Celakalah mereka yang menyebutkan kejahatan itu baik dan kebaikan itu jahat, yang mengubah kegelapan menjadi terang dan terang menjadi kegelapan, yang mengubah pahit menjadi manis, dan manis menjadi pahit” (Yes.5:20).

Dewasa ini sudah sangat jamak terjadi kalau seorang anak begitu mudahnya mengabaikan: perasaan malu, perasaan bersalah, dan bahkan tidak menunjukkan emosi apa pun ketika melakukan tindakan yang menyimpang dari kepatutan. Sebut saja misalnya menonton VCD porno di internet dan melakukan free sex usia dini. Menurut Don Otis, dewasa ini kecenderungan perilaku anak memang mulai bergeser dan menjauh dari nilai-nilai Alkitab. Contohnya, meningkatnya ketidakjujuran (berbohong, menipu, mencuri dianggap hal biasa), menipiskan sikap hormat terhadap orang tua, guru, dan orang lain, meningkatnya kejahatan, merosotnya gaya bicara sopan, melonjaknya penggunaan narkoba, alkohol, dan perilaku merusak lainnya. Kondisi ini jelas mengkhawatirkan dan harus menjadi warning serius bagi setiap orang tua. Selain orang tua, para penggiat pendidikan anak juga jangan alpa dalam memberikan kontrol atau pengawasan. Anak-anak harus segera diberikan edukasi dan pencerahan terkait bahaya dan dampak buruk dari pergeseran nilai dari norma-norma Kristen.

Pertanyaan pentingnya adalah, apakah semua orang tua peduli? Mau mengalokasikan waktu untuk memerhatikan & membimbing anaknya? Kesibukan mencari nafkah sering kali menjadi alasan klasik. Orang tua yang sibuk akhirnya memilih berdamai dengan keadaan dan menganggap wajar penyimpangan perilaku anak. Menggangap itu merupakan konsekwensi logis dari pesatnya kemajuan iptek saat ini. Sikap demikian sangat berbahaya, karena secara sadar telah melegitimasi perubahan tingkah laku anak dengan tendensi negatif tersebut.

Kaitan Orang Tua dengan Anak Bermoral

Ketika orang tua bersikap masa bodoh dan abai memberikan teguran ataupun peringatan akan bahaya yang mengancam, maka seorang anak akan merasa seperti “diberi angin” dan menganggap gagasannya atau apa yang dilakukannya meskipun salah tidaklah buruk dan masih bisa diterima. Situasi ini tentu saja potensial mengancam perkembangan moral anak yang sehat. Perubahan perilaku anak zaman now yang terkadang aneh sejujurnya telah menyuarakan bahwa kewarasan tampak mulai suram di abad ini. Akan tetapi meskipun situasinya agak mengkhawatirkan, namun Otis memberikan kabar baik bahwa Allah selalu menawarkan jalan keluar kepada siapa pun ketika tampaknya tidak ada lagi harapan (Otis, 15).

PERUBAHAN-PERUBAHAN NILAI YANG CEPAT 

Francis Schaeffer, seorang filsuf dan pemikir Kristen terkemuka mengatakan, “Semangat abad ini ialah kebebasan yang otonom: artinya, kebebasan dari segala kekangan dan terutama pemberontakan terhadap kebenaran dan kemutlakan moral Allah” (Otis: 27).  Sinyalemen di atas jelas sejalan dengan nubuat nabi Yesaya tentang kemerosotan moral di zaman akhir (Yes.5:20).

Memang sulit dipungkiri dewasa ini situasi moral telah mengarah kepada kebebasan dengan tendensi pengabaian nilai-nilai kejujuran, moral dan hati nurani. Konsep mengenai baik buruk dan benar salah, kini mulai digeser dan digantikan dengan nilai-nilai mutlak yang bertentangan dengan Alkitab. Sebagai contoh, sebuah survey menyimpulkan bahwa 82 persen dari seluruh siswa percaya bahwa benar dan salah merupakan konsep yang relatif dan bahwa moralitas adalah konsep yang aneh. (Marianne Jennings, The Real Generation Gap, IMPRIMIS, Agustus 1998, 4).

Jajak pendapat nasional lainnya terhadap 20.000 siswa SLTP dan SMU menyatakan bahwa 47 persen mengakui telah mencuri selama tahun sebelumnya; 78 persen mengakui bahwa mereka secara teratur berbohong kepada orang tua mereka;  – Shepherd Smith, Teach and Exemplify Decency, Values, Spokane Spokesman-Review, 17 Desember 1998, B8. Survey tersebut tidak dimaksudkan untuk membuat resah orang tua melainkan untuk menekankan pentingnya orang tua berperan aktif membimbing anak-anak mereka dengan hati-hati melewati kegelapan yang membingungkan di zaman akhir ini.

Kenyataan itu juga hendaknya menyadarkan para orang tua bahwa semakin ke depan tatanan nilai akan semakin dinamis (baca: berubah) dan hal itu tidak mungkin terelakkan. Akan ada pandangan-pandangan dengan banyak dimensi yang pastinya menjadi tantangan ketika memikirkan bagaimana menumbuhkan karakter anak yang sehat di tengah kepungan nilai-nilai mutlak baru yang semakin gencar menyerbu dengan budaya baru dan dengan nilai-nilai mutlak baru yang bertentangan dengan iman Kristen.

MENGAPA PERLU PERLINDUNGAN ANAK

Menyikapi semakin merosotnya peradaban Kristen di zaman akhir, Otis menyarankan pentingnya mendirikan pagar-pagar moral bagi anak. Pagar itu harus dirancang untuk melindungi atau menahan potensi ancaman dari nilai-nilai destruktif. Namun menurut Otis, sebagus apapun sebuah pagar dibangun, pagar itu tidak akan begitu efektif bila salah satu pintunya dibiarkan terbuka (Otis: 132). Analogi ini dapat digunakan sebagai gambaran dalam usaha menjaga dan membina moral dan nilai-nilai dalam diri anak terutama pada masa tumbuh kembangnya.

Bila orang tua tidak peduli dan gagal menjaga pikiran anak-nakanya dari para pemangsa, hal itu akan sama saja dengan membiarkan pintu-pintu pagar terbuka sehingga nilai-nilai keduniawian akan masuk bercokol dan menggerogoti benih-benih moralitas alkitabiah yang telah ditanamkan. Dan hasilnya pastilah terjadi malapetaka moral.

Menurut Otis, pembangunan pagar moral harus dimulai dari menyediakan waktu bagi anak untuk mendiskusikan alasan-alasan dibalik rambu-rambu moral yang menjadi dasar sebuah tindakan. Ini artinya orang tua dituntut mengajar anak untuk mengenali logika dibalik isu-isu mengenai baik buruk dan benar salah. Bisa jadi awalnya anak-anak tidak menyukai alasan-alasan yang diberikan orang tuanya, namun jika hal itu dilakukan secara konsisten dan penuh kasih, lambat laun anak-anak akan menghargai otoritas orang tuanya dan menaruh respek terhadap “pagar-pagar” yang dibuat.

Selain pentingnya alokasi waktu, hal penting berikutnya adalah keteladanan. Dalam konteks ini, setiap orang tua dituntut memantapkan nilai-nilai moral yang secara konsisten dipraktikan dalam keseharian hidup. Tidak harus sempurna karena seorang anak tidak mencari kesempurnaan mutlak dari orang tuanya. Yang dicari seorang anak sesungguhnya adalah keyakinan dan konsistensi orang tua dalam menerapkan nilai-nilai secata jujur tanpa kepura-puraan. Pagar lainnya adalah aturan yang jelas dan bijak. Aturan moral dan etis sangat penting sebagai rambu-rambu yang menjadi pegangan dan kompas agar anak-anak tidak tersesat dalam menjalani kehidupan ditengah perubahan dunia yang begitu dinamis.

BUKU PEDOMAN BAGI ORANG TUA DALAM MEMBINA ANAK BERMORAL

Membina Anak Bermoral
Bagaimana Cara Orang Tua Membina Anak Bermoral

Buku “Membina Anak Bermoral” merupakan salah satu rujukan terbaik bagi orang tua yang bergumul membesarkan anak dimilenium ini. Dalam memenangkan pertempuran pikiran yang dihadapi anak-anak, memang dibutuhkan panduan yang jelas dan solutif.

Buku karangan Don Otis ini adalah jawaban yang tepat yang kami rekomendasikan bagi Anda. Buku rohani Kristen ini disajikan dengan bahasa yang mudah dan isinya menawarkan bimbingan dan jalan keluar yang praktis. Juga, memberi solusi dan arahan bagaimana para orang tua dapat membantu “mendidik” kepribadian  anak sehingga memiliki moral dan integritas terpuji. Jadi, buku ini sangat baik dimiliki para orang tua atau dihadiakan kepada pasangan-pasangan muda. Dapat menjadi bekal dalam membina dan mengarahkan anak dengan nilai-nilai alkitabiah. Membina anak untuk mampu bertahan dan berkembang serta menjadi berkat di tengah dunia yang semakin sekuler ini.

 

Yupiter Sepaya

Leave a comment