Skip to content Skip to footer

PINJAM-MEMINJAM DALAM PANDANGAN ALKITAB

Masyarakat yang Meminjam

Saat ini meminjam/ kredit/ berutang menjadi “bagian” dari hidup masyarakat kita. Ada yang meminjam uang untuk keperluan darurat, untuk menyewa rumah tinggal, menyewa mobil untuk mengajak keluarga ke kampung, dsb. Namun, yang lebih berbahaya ialah meminjam untuk hal konsumtif.

Dua orang kawan berdebat dengan serius tentang meminjam. Seorang berkata “Itu sah-sah saja” dan seorang berkata degan tegas, “tidak boleh.” Kemudian, datanglah yang satu lagi berkata, “Kalau pinjam untuk beli barang ga boleh, tapi kalau pinjam untuk modal usaha boleh. “Loh? Dasarnya apa?” yang lain serentak bertanya.

Ilustrasi di atas tampaknya terlalu mengambang, tetapi hal ini setidaknya menjadi gambaran bahwa kita perlu mengerti bagaimana pandangan Alkitab terhadap pinjam-meminjam. Memiliki pemahaman yang benar akan hal tersebut membuat kita bijak mengatur keuangan. Akan sangat sulit untuk mengambil keputusan-keputusan keuangan sesuai firman Allah jika tidak paham akan prinsip-prinsip sederhana pinjam-meminjam dalam Alkitab.

Hal Meminjam - Mengatur Keuangan dengan Bijak

Larry Burkett, pendiri dan presiden Christian Financial Concepts, Inc. yang sekarang menjadi Crown Financial Ministries, mengajarkan prinsip sederhana terkait pinjam-meminjam dalam bukunya yang berjudul Mengatur Keuangan dengan Bijak. Larry menyampaikan beberapa pandangan tentang Pinjam-meminjam. Mari, kita bahas satu per satu.

Hal yang Minimum dari Allah

Hal paling minimum untuk setiap peminjam dalam pandangan Allah ialah:

Mazmur 37:21 (TB)

“Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah (maksudnya: suka memberi).”

Orang Kristen seharusnya tidak masuk dalam kriteria orang fasik. Meminjam, tapi tidak membayar kembali. Dengan mengetahui prinsip ini harusnya dapat menghindarkan kita melakukan peminjaman untuk hal yang tidak perlu, apa pun alasannya. Bahkan, dengan alasan “keadaan-keadaan”. Sehingga kita terhindar dari bencana gagal bayar.

Janji-Janji Allah

Orang-orang yang terlibat dan terjerat utang memerlukan iman, bahwa Allah tahu kebutuhan dan juga akan memelihara mereka. Firman dalam Mazmur 37:21 jika di praktikkan akan memiliki dampak luar biasa. Kita diajar untuk taat dalam membayar hutang, apa pun yang terjadi.

1 Raja-raja 2:3 (TB)
“Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju.”

Dengan demikian, walaupun dalam kesulitan, orang Kristen harus tetap menjalankan perintah Allah. Membayar kewajiban / utang, dengan iman menantikan janji pemeliharaan-Nya yang ya dan amin itu.

Satu-satunya Cara Alkitabiah untuk Meminjam

Pahami prinsip ini sebelum mengambil keputusan penting keuangan:

Amsal 22:26 (FAYH)
“Janganlah menyetujui surat utang atau menanggung utang orang lain. Kalau engkau tidak sanggup melunasinya, segala harta milikmu akan habis disita.”

Hal jaminan utang adalah prinsip yang paling sedikit dimengerti dan sering disalahgunakan. Amsal dengan jelas mengingatkan kita tentang bahaya ini. Kita bisa kehilangan segalanya. Oleh sebab itu, bijaklah dalam menyetujui, apalagi menanggung utang orang lain. Hitung dengan cermat, sanggupkah kita melunasinya? Jangan libatkan keinginan mata, emosi, kedagingan, perasaan kasian, atau bahkan ketidak tegaan kita dalam memutuskannya. Jika gagal bayar, kita akan kehilangan semuanya!

Penerapan Masa Kini

Dalam masyarakat yang wajar meminjam, bukan berati hal itu juga wajar dalam rencana Allah. Harus dipahami, kredit bukanlah masalah yang sebenarnya. Penyalahgunaan kreditlah masalahnya. Penyalahgunaan kredit dapat kita lihat melalui hal pokok Alkitab yang mendasar.

Ingin Menjadi-Cepat-Kaya

Amsal 21:5 (TB)

Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan.

Banyak utang muncul karena kita ingin jalan pintas dalam memiliki barang-barang daripada dengan jalan menabung.

Kurang Iman

Meminjam secara terus-menerus menjadi bukti kurangnya iman kepada Allah. Banyak orang Kristen tidak menghidupi janji pemeliharaan Allah sehingga terjebak dalam siklus looping meminjam tersebut. Bukan bergantung kepada Allah, melainkan bergantung pada kredit. Untuk itu, Alkitab mengajarkan:

Matius 6:32-33
“Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Kebodohan

Alkitab menjelaskan akar dari kebodohan ialah tidak membaca firman Allah.

Amsal 2:6(TB)

“Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.”

Hikmat dunia menganjurkan untuk melipatgandakan harta dan barang dengan meminjam secara berlebihan. Namun, firman Allah mengajarkan:

Amsal 17:1 (TB)

“Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.”

Ketenteraman merupakan kerinduan kita di mana pun kita berada. Namun, bagaimana kita dapat ketenteraman jika kita diliputi ancaman utang yang tidak dapat kita bayar bulan depan, dan lebih dari setengah penghasilan kita ditelan oleh utang. Jadi, berhikmatlah.

Pinjam-meminjam yang “Perlu”

Banyak pasangan saat ini yang tidak merencanakan membeli rumah yang bebas-hutang. Bahkan, tak menyadari kebutuhan itu. Banyak yang terjebak dengan pemikiran berapa kemampuan kredit yang dapat dibayar, bukan pada berapa jumlah biaya seluruhnya. Hal itu menyebabkan kita membeli lebih daripada yang diperlukan. Merangsang jadi lebih konsumtif, membuat utang memakan banyak porsi pemasukkan, dan biaya hidup sehari-hari menjadi kurang. Hindari hal itu jika kita ingin ketenteraman.

Sesuai prinsip-prinsip sebelumnya, cermati secara keseluruhan sebelum kita meminjam. Jangan terdorong oleh keinginan semata atau buaian indah promo. Menabung atau persiapan sejak dini merupakan jalan teraman yang diajarkan Alkitab. Hal itu perlu latihan dan bisa dimulai kapan pun.

Pinjam-meminjam Secara Bisnis

Lukas 6:48 (TB)

“Ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.”

Banyak perusahaan atau toko dijalankan secara kredit (termasuk perusahaan orang Kristen). Percaya bahwa perusahaan tidak berkembang jika tidak meminjam. Hati-hati terhadap jerat ini. Sudah jelas yang bebas utang tidak dapat cepat tenggelam (bangkrut). Menurut Larry, seharusnya, pengusaha Kristen harus memiliki sasaran jangka panjang bebas dari utang. Allah tidak pernah menjanjikan pertumbuhan yang cepat. Sebuah landasan yang kokoh ialah janji-Nya.

Landasan

Jadikan firman Allah sebagai landasan untuk mengambil keputusan keuangan. Kehidupan yang kokoh didapat dari landasan yang benar. Jangan biarkan berkat Tuhan yang diterima terhabiskan untuk membayar pinjaman yang bersifat tidak perlu atau konsumtif. Atur keuangan lebih bijak. Persiapkan diri lebih matang untuk menghadapi masa depan. Walau, menurut dunia itu gelap, bersama Allah masa depan itu sungguh ada dan harapan didalam Dia tidak pernah hilang (Amsal 23:18).

 

Chrisna Panuntun

Leave a comment