Skip to content Skip to footer

BERDIAM DIRI

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah. (Yakobus 1:19)
Penyesalan pada umumnya muncul belakangan ketika segalanya sudah terlanjur terjadi. Itu pula yang dihadapi seorang ayah yang kebingungan ketika menjumpai anaknya mogok sekolah. Entah apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja anaknya nggak mau pergi ke sekolah. Walaupun berbagai cara telah dilakukan orang tua untuk membujuk anak itu namun anak itu tetap tidak mau pergi ke sekolah.
Akhirnya satu hari anak itu tidak sekolah. Di rumah ia tampak asyik bermain dengan adiknya dan herannya tidak merasa bersalah dengan sikapnya mogok sekolah. Ayahnya pergi ke sekolah untuk menyampaikan perihal anaknya sekaligus mencari tahu apakah dia ada masalah dengan teman-temannya. Ternyata semua baik-baik, maka sang ayah pulang dengan tangan hampa.
Keeseokan harinya anak itu berangkat ke sekolah seperti biasa, tetapi jam istirahat kembali membuat masalah dengan kabur dan baru siang harinya ditemukan orang tua murid yang secara tidak sengaja dan lokasinya cukup jauh dari sekolah. Ayahnya menjadi sedih dan frsutasi. Lalu ia mencoba membawa anaknya jalan-jalan dan bermain. Di saat itulah sang anak kemudian bercerita bahwa ia tidak mau ke sekolah karena dipanggil teman-temannya si jagung. Memang panggilan itu mulanya hanya berlaku di rumah sebab rambut anak itu kemerahan seperti bulu-bulu jagung. Ayahnya member panggilan itu dengan maksud agar ada nama panggilan khas untuk setiap anak
Tetapi kini masalahnya sudah menjadi lebih rumit. Teman-teman di sekolah ikut-ikutan memanggilnya si jagung. Anak ini merasa kesal dan tersinggung. Ia merasa malu dan merasa direndahkan. Panggilan itu tampak biasa dan mungkin bagi orang-orang tertentu tidak bermasalah. Tetapi ayah anak ini benar-benar menyesal telah memberina nama anak itu Jagung. Meskipun ia telah meminta maaf dan berjanji tidak akan memanggil dengan nama itu, tetapi konsekuensinya anak itu memang harus dipindahkan ke sekolah lain.
Selain ada pengeluaran tambahan membayar uang pangkal, tanpa sadar sang ayah telah melukai perasaan sekaligus merendahkan sang anak. Untuk memulihkan hal itu tidak mudah. Mungkin belum terlambat memulihkan luka hati anaknya, tetapi membutuhkan masa pemulihan yang panjang.
Dari peristiwa ini, kita semua belajar bahwa dalam melakukan apa pun perlu dipertimbangkan dampaknya. Jangan asal bunyi sebab tanpa sadar kita bisa melukai orang lain. Apa yang sudah terlanjur dikatakan tidaklah mungkin ditarik kembali. Karena itu jangan terlalu banyak bicara sebab di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran.
Diam emas, bicara perak

Leave a comment

0/5