Skip to content Skip to footer

Valentine

Sejarah Valentine

Valentine berasal dari nama seorang pendeta atau pastor bernama Valentine (bahasa Inggris), Valentino (Bahasa Italia), Valentinus (Bahasa Latin). Ia lahir tahun 175 Masehi di Terni Italia, berkebangsaan Kekaisaran Romawi. Ia meninggal 14 Februari 269 Masehi di Roma, Italia.  Menurut Setyaningrum, dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia buku 17 terbit tahun 1996 halaman 120, disebutkan bahwa St. Valentinus meninggal tanggal 14 Februari 270 Masehi. Dia dimakamkan di Basilica di San Valentino, Terni, Italia.

Dalam Wikipedia Indonesia disebutkan bahwa nama Valentine ini merujuk kepada satu dari minimal tiga nama orang suci (santo) martir Roma Kuno. Dikatakan bahwa St. Valentinus dan kawan-kawannya dihukum pancung di Roma pada tahun 269 Masehi karena: pertama, menolak menyangkal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat di depan Kaisar Claudius II.

Alasan kedua, menurut History.com, St. Valentinus menentang kebijakan kaisar yang melarang  pernikahan pria muda karena pria lajang lebih mudah dan lebih baik direkrut untuk menjadi prajurit dibandingkan dengan pria yang sudah beristri atau sudah berkeluarga. St. Valentinus berpendapat bahwa itu tidak adil dan terus menentang kaisar dengan tetap menikahkan pria muda secara rahasia. Seiring dengan perjalanan waktu Kaisar Claudius II mengetahuinya.

Mengenal Valentinus

Valentinus mendapat gelar Santo, artinya “orang suci”.  Pesta Santo Valentinus pertama kali diputuskan pada 496 Masehi oleh Paus Gelasius I. Pesta ini diadakan ada kaitannya dengan memperingati hari raya Pra-Kristen bernama Lupercalia yang masih dirayakan di Roma sampai abad ke-5.  Hari raya  Valentine ini telah dihapus dari kalender gerejawi tahun 1969 karena asal-muasal santo ini masih dipertanyakan dan hanya bersadarkan legenda saja.

Pesta Lupercalia adalah perayaan yang sangat kuno, mungkin pra-Romawi, yang dirayakan tanggal 15 Februari. Tujuan pesta ini untuk melawan dan menangkal kuasa roh-roh jahat, , dan untuk memurnikan kota, serta untuk memberikan kesehatan dan kesuburan. Lupercalia juga disebut “Dies Februatus”, yang menjadi cikal-bakal dari nama bulan kedua dalam kalender Gregorian yang kita gunakan sekarang ini: Februari. Kalender ini pertama kali dikenal tahun 1582. Kalender Masehi, menurut Ensiklopedia Britanica, berdasarkan hitungan waktu perputaran bumi mengelilingi matahari.

14 Februari

Dalam Gereja Katolik Roma, pesta Valentine dirayakan tanggal 14 Februari karena St. Valentinus dihukum mati tanggal 14 Februari, tetapi dalam Gereja Ortodoks Timur dirayakan tanggal 30 Juli. Sebenarnya, menurut berbagai sumber, orang yang dieksekusi tanggal 14 Februari itu ada tiga orang: seorang pastor di Roma, seorang uskup di Terni, dan seorang martir di provinsi Romawi Afrika. Dalam Gereja Katolik, St. Valentinus adalah santo pelindung orang yang bercinta dan orang yang menderita penyakit epilepsi.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, seperti tersebut di atas, maka alasan yang lebih masuk akal  pemilihan tanggal 14 Februari itu berkaitan erat dengan kepercayaan orang Eropa Tengah (Jerman, Swiss, Hongaria, Azerbaijan, Austria, Republik Ceko, Rumania, Polandia) bahwa pada masa itu merupakan masa kawin burung. Pada masa itu burung-burung saling mencari pasangan. Menurut kebiasaan masyarakat setempat, mereka pergunakan waktu itu untuk mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada orang yang mereka sayangi. Caranya, dengan kata-kata, memberikan coklat, bunga,  dan bagi yang jauh mengirim kartu pos.

Valentine Mendunia

Kemudian, mengapakah hari raya Valentine ini dirayakan oleh masyarakat di seluruh dunia, bahkan di Indonesia pun merayakannya dalam kalangan tertentu, terutama di kalangan muda-mudi? Makna apakah yang dapat diambil dari perayaan hari raya Valentine itu? Bagaimanakah gereja menyikapi perayaan ini? Pada umumnya orang hanya mengikutinya, tanpa mengetahui maknanya apa dan bagaimanakah menyikapinya. Apakah hal-hal positif dan negatif dari perayaan itu?

Perayaan Valentine dirayakan di Eropa Tengah jauh sebelum kelahiran St. Valentinus. Perayaan itu menyebar ke seluruh Eropa, ke benua Amerika (Utara dan Selatan), ke Afrika, dan juga ke negara-negara Asia. Hal itu terjadi karena banyaknya negara-negara Eropa yang menjajah negara-negara di berbagai benua, dan mereka membawa kebiasaan itu ke daerah koloni mereka. Dalam waktu ratusan tahun kebiasaan perayaan Valentine itu juga menjadi kebiasaan penduduk asli jajahan. Di Indonesia, perayaan itu dibawa oleh orang-orang Belanda yang menjajah Indonesia sekitar 350 tahun. Zaman sekarang, hal itu disebarkan dengan cepat dan masif melalui sosial media.

Makna dari perayaan itu adalah untuk menyatakan rasa kasih sayang atau perasaan cinta  kepada seseorang atau anggota keluarganya. Caranya dengan menyatakannya melalui kata-kata, memberi hadiah coklat atau buket bunga, atau dengan cara mengirim kartu pos (sekarang melalui posting di WA, instagram, telegram, facebook, twiter atau e-mail).  Sikap gereja adalah mengarahkan anggota jemaatnya agar merayakan Valentine itu dengan wajar, sopan, menghindari hal-hal yang melanggar susila, dan diarahkan untuk mempererat persatuan dan kesatuan jemaat. Sikap ini tertuang dalam berbagai buku rohani Kristen yang diterbitkan oleh Penerbit Kalam Hidup.

Kontrovesri Hari Valentine

Ada tokoh gereja atau tokoh agama lain yang mengharamkan perayaan Valentine itu. Mereka menganggap perayaan itu kotor, tidak sesuai dengan etika Kristen atau tata krama dan adat-istiadat Indonesia. Pendapat itu mengacu pada pesta Lupercalia yang menjadi cikal-bakal perayaan Valentine. Namun perayaan Valentine sekarang tidak dilakukan seperti itu.  Orang saling menyapa, memberi penghargaan, saling mengasihi, saling memberi hadiah, dan pada orang tertentu makan bersama. Hal yang dihindari adalah mengadakan perayaan dengan melakukan perbuatan tercela, melanggar kekudusan, menyimpang dari kebenaran firman Allah.

Cara yang terbaik, berilah hadiah sebuah buku rohani Kristen yang baik, misalnya Ia Dinamai Perempuan; Itu Kan Boleh?Persiapan Hari Pernikahan; Hidup Kudus, Siapa Takut?; Cantik dan Menarik; Gadis Idaman; Engkaulah Permata Hati; Pernikahan dan Seksualitas; Cinta Kasih Seumur Hidup, dll. Bekalilah diri Anda dan anak-anak Anda dengan ajaran dan nasihat yang didapat dari buku-buku bermutu yang diterbitkan oleh Penerbit Kalam Hidup.

Selamat merayakan hari raya Valentine dalam terang firman Allah. F. Thomas Edison

 

 

Baca Juga : Pembentukan Karakter Anak Di Mulai Dari Rumah

Hidup Kudus ? Siapa Takut!
Judul : Hidup Kudus Siapa Takut. Penulis : Bob Hastetler
Judul : Persiapan Hari Pernikahan, Penulis : Eric dan Paula
Judul : Engkaulah Permata Hati, Penulis : Gien Karsen
Judul : Itu ‘Kan Boleh? Penulis : Dorothy I.Mark
Valentine momen untuk Membangun Pernikahan
Judul : Pernikahan dan Seksualitas, Penulis : Dr. James C. Dobson
Judul : Gadis Idaman, Penulis : Marty Hefley
Judul : Cantik dan Menarik, Penulis : Joyce Landorf
Cocok sebagai hadiah di hari Valentine
Judul : Ia Dinamai Perempuan, Penulis : Gien Karsen

1 Comment

  • Buluh Nipis
    Posted February 16, 2022 at 8:29 am

    Buku ini sangat bermanfaat untuk memberikan wawasan tentang materi yang dibahas dalam setiap buku

Leave a comment

0/5