Skip to content Skip to footer

PENTINGNYA BELAJAR SEJARAH GEREJA (GKII)

TUJUAN PEMBELAJARAN SEJARAH SECARA UMUM

kalamhidup.com – Tulisan ini secara ringkas mengulas pentingnya pembelajaran / belajar sejarah dan apa tujuan memelajarinya. Marc Bloch dalam bukunya The Historian’s Craft dikutip Pazmino, mendefinisikan sejarah sebagai “ilmu tentang manusia di dalam kerangka waktu” ( Robert W. Pazmino, Fondasi Pendidikan Kristen (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013), 176 . Sebagai ilmu, sejarah adalah kumpulan seperangkat penyelidikan yang berisi analisis dokumen dan bukti-bukti lain yang dilakukan dengan penuh keteraturan dan objektivitas. Fokus dan tujuannya adalah memelajari manusia secara individu maupun kelompok di dalam ruang dan waktu yang  konkret. Artinya waktu dalam sejarah bukan sesuatu yang abstrak, tetapi nyata dan terus berkembang secara konstan. Itulah sebabnya tugas memahami sejarah menjadi sebuah tugas yang tidak pernah berakhir karena manusia terus berkembang dan punya perspektif  baru tentang masa lalu. (Pazmino, 2013:176).

Dengan demikian sejarah tidak saja menjadi cabang ilmu pengetahuan yang mengkaji kelakukan manusia dalam rentang waktu tertentu, melainkan juga memiliki peran penting dalam memperbaiki dan menumbuhkan nilai-nilai hidup yang penting demi peradaban yang lebih baik bagi generasi kini dan datang. Karena itu, ketika memelajari sejarah maka semua elemen yang menyangkut individu atau kelompok pelaku sejarah harus dikaji secara objektif  baik kelakuan ataupun alasan-alasan yang mendasarinya  agar makna edukatif dapat ditimba dan akhirnya berdampak pada aspek pembentukan dan pembaruan karakter setiap generasi yang memelajarinya. Namun dalam konteks atau perspektif sejarah gereja, sejarah harus dimaknai sebagai catatan mengenai perbuatan Allah. “History” adalah “His Story”. Artinya, sejarah adalah cerita Allah. Unsur ilahi inilah yang telah dinyatakan dengan jelas dalam asal mula dan perkembangan gereja, khusunya Gereja Kemah Injil Indonesia disingkat GKII (Rodger Lewis, Karya Kristus Di Indonesia, Bandung: Kalam Hidup, 2017), hlm.11.

PEMBELAJARAN SEJARAH MENURUT PERSPEKTIF ALKITAB

Pemahaman tentang makna sejarah di atas memiliki dimensi dan sudut pandang yang sejajar dengan perspektif  Alkitab. Hanya saja Alkitab memberi penekanan yang berbeda di mana pembelajaran sejarah bukan melulu soal cerita tentang manusia dan tindakannya di masa lalu, melainkan di dalamnya ada nilai-nilai esensial yang edukatif untuk dikaji menjadi pembelajaran bagi pembaruan karakter ke arah yang lebih baik. Menurut Heath, Alkitab adalah rujukan terbaik untuk memahami manusia secara utuh dengan segala karakteristik dan kelakuannya (W. Stanley Heath, Psikologi Yang Sebenarnya (Yogyakarta: Penerbit Andi, 1997), 13. Dari sini dapat dikatakan bahwa pembelajaran sejarah menurut perspektif Alkitabiah memberi sumbangsih nyata bagi pembentukan karakter manusia yang adiluhung.

Itulah sebabnya metode pembelajaran sejarah menurut Alkitab adalah sesuatu yang sangat didukung  dan dianjurkan. Mazmur 78 misalnya, di sana disorot tentang betapa bergunanya pembelajaran sejarah. Tujuannya, “… supaya (sejarah/pengalaman masa lalu itu) dikenal oleh angkatan yang kemudian … supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah” …dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak … dan tidak setia jiwanya kepada Allah (ay.6-8).

Selain Pemazmur, Rasul Paulus juga menyatakan, “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci” (Roma 15:4), dan, “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh … untuk memeringatkan kita … dan dituliskan menjadi peringatan bagi kita…”(1 Kor. 10:6, 11). Perspektif firman Allah di atas, memberi gambaran bahwa pembelajaran sejarah memiliki nilai strategis yang mesti diadaptasi dalam kerangka pembentukan karakter generasi masa kini.Van den End,  dalam pendahuluan buku “Ragi Carita 1” menekankan hal yang sama dimana, “belajar sejarah gereja, bukanlah soal mencatat data secara objektif saja, melainkan membantu gereja agar belajar mengikuti Tuhan sesuai dengan tuntutan yang diajukan-Nya kepadanya” ( Van den End, Ragi Carita 1 (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 4) .

BAGAIMAN DENGAN SEJARAH GEREJA KEMAH INJIL INDONESIA

Perjalanan sejarah Gereja Kemah Injil Indonesia memiliki rekam jejak yang panjang. Buku “Karya Kristus Di Indonesia” terbitan Kalam Hidup merupakan catatan dan dokumentasi sejarah yang sangat berharga tentang asal mula dan perkembangan Gereja Kemah Injil Indonesia dari tahun 1930 – 1990-an. Buku ini merupakan karya Pdt. Rodger Lewis, B.A. seorang utusan misi dari The Christian and Missionary Alliance (C&MA) yang melayani di Pulau Bali sejak tahun 1953. Kehadiran buku ini tentu patut disyukuri karena sangat berguna untuk menjadi pegangan di Sekolah-Sekolah Alkitab dan Sekolah Sekolah Teologi milik Gereja Kemah Injil Indonesia, juga berguna bagi siapa saja yang ingin atau berminat mengetahui asal-usul serta perkembangan pelayanan The Christian Missionary Alliance yang “melahirkan” Gereja Kemah Injil di negeri tercinta Indonesia. Menurut penulisnya, buku ini secara umum menceritakan cara dua kelompok utusan Injil baik dari luar negeri maupun dari Indonesia sendiri. Dan, bagaimana mereka menaati amanat Yesus Kristus dan memenuhi nubuat-Nya dalam suatu kerja sama yang baik yang telah menghasilkan “tuaian yang besar” yang tak mungkin diperoleh kedua kelompok ini apabila mereka melakukannya sendiri-sendiri.

GARIS BESAR BUKU “KARYA KRISTUS DI INDONESIA”

Fakta sejarah yang dicatat dalam buku ini menyatakan bahwa dalam waktu singkat ada ribuan orang yang telah menjadi murid Kristus. Bahkan mereka menjadi saksi yang sampai sekarang dengan setia membawa berita tentang juruselamat itu ke berbagai tempat di pelosok tanah air Indonesia (Roger Lewis, 2017:11).

Apa dan bagaimana kiprah para misionaris C&MA memulai pelayanan di Indonesia yang tetap eksis hingga kini semua dicatat dengan runtut dalam buku ini. Dr. R.A. Jaffray yang merupakan pendiri Gereja Kemah Injil Indonesia, awal masuknya pekerjaan penginjilannya diceritakan dalam “Latar Belakang Berdirinya Gereja Kemah Injil Indonesia” (Bab 1). Selanjutnya (Bab 2) mengulas “Tiga Kunci Keberhasilan Pelayanan R.A. Jaffray, akhirnya dijadikan tiga pilar utama pelayanan Gereja Kemah Injil Indonesia hingga saat ini, yakni: gereja, sekolah, dan literatur (penerbitan). Bab 3 &4 meguraikan “Pembukaan Pelayanan di Kalimantan” dan Awal Pelayanan di Kalimantan Barat tahun 1933”. Kemudian Bab 5-10 menceritakan pergerakan misi dan penginjilan yang dilakukan oleh R.A. Jafrray dan timnya di Bali, Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Timur, Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Irian Jaya. Dan di bagian akhir buku ini (Bab 11) khusus membahas tema “Pengorganisasian”.  Perlu diingat bahwa pada awal pertumbuhan Gereja Kemah Injil di Indonesia, R.A. Jaffray tidak terlalu terikat dengan masalah organisasi. Gereja Kemah Injil Pusat di Makassar, misalnya, tidak memunyai daftar ke anggotaan. Itulah sebabnya, Pdt. Walter M. Post yang menggantikan Jaffray sebagai ketua C&MA di Indonesia pada tahun 1946 (hal.178), melihat sudah waktunya ditetapkan suatu ikatan persaudaraan resmi di antara gereja-gereja sedaerah dan seasas. Apa yang digagas oleh Walter Post ini kemudian dilanjutkan dengan kunjungannya beranjangkarya ke Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara. Dari pergerakan awal inilah dan melalui pergumulan panjang akhirnya saat ini warisan pelayanan R.A. Jaffray dilembagakan dalam wadah organisasi sinodal dengan nama “Gereja Kemah Injil Indonesia” yang berkantor Pusat di Jakarta. Itulah gambaran sekilas tentang awal mula dan perkembangan Gereja Kemah Injil Indonesia.  Warga Gereja Kemah Injil Indonesia semestinya membaca buku “Karya Kristus Di Indonesia” ini agar mengerti dan tahu sejarahnya dan dapat mengambil pelajaran untuk meneruskan pelayanan dan membawa banyak jiwa kepada Kristus.

 

Yupiter Sepaya

Leave a comment