Skip to content Skip to footer

Mendidik Untuk Kehidupan – NON SCHOLAE SED VITAE DISCIMUS

NON SCHOLAE SED VITAE DISCIMUS – Pendidikan Anak yang Mencerahkan

PENDIDIKAN

    Pendidikan anak adalah tema pembicaraan dalam pendidikan yang tidak ada bandingnya. Sangat popular dan dilakukan oleh semua orang tua yang bertanggung jawab. Pendidikan anak, baik pendidikan rohani maupun pendidikan umum, diperlukan oleh semua anak agar dapat berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) Pendidikan didefinisikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Selain itu, pendidikan juga merupakan proses, cara, perbuatan mendidik (KUBI, Balai Pustaka 2002, 263).

Dalam Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional Indonesia dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terrencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,  serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. (anamulyana. blogspot.com). Adapun anak adalah keturunan pertama yang dihasilkan oleh ayah dan ibu . Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Koordinasi Perlindungan Anak Bab I Pasal 1 ayat 3 disebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

 

PENDIDIKAN ANAK

Ada tiga Lembaga yang bertanggung jawab dalam Pendidikan anak, yaitu:

  1. Lembaga keluarga, yaitu orang tua atau ayah dan ibu dari anak yang bersangkutan. Orang tua adalah pendidik pertama dan yang utama bagi seorang anak. Kepiawaian orang tua dalam mendidik anak akan terlihat hasilnya pada anak itu dalam bentuk sikap, tingkah laku, tutur-kata, dan cara berkomunikasi anak dengan orang lain. Selain itu, hasil didikan itu juga terlihat dalam pola pikir, perkembangan spiritual anak, semangat dan motivasi serta perkembangan emosi anak.
  2. Lembaga Pendidikan, terutama lembaga pendidikan anak formal dalam bentuk sekolah-sekolah resmi, baik milik pemerintah maupun milik swasta.
  3. Disadari atau tidak, masyarakat di mana anak itu dibesarkan sangat memengaruhi perkembangan jiwa dan raga anak. 1 Kor.15:33 berkata “janganlah kamu sesat: pergaulan yang buruk (dapat) merusak kebiasaan yang baik.” Karena itu lingkungan pergaulan anak hendaknya mendapat awasan orang tua.

 

BAGAIMANAKAH IMPLIKASI PELAYANAN TERHADAP ANAK ITU?

Melihat ke dalam buku Filsafat Pendidikan: Introducing Christian Education, FONDASI PENDIDIKAN ABAD 21 dalam Bab 22 tentang Pendidikan Masa Kanak-kanak, Michele Anthony mengatakan bahwa ada tiga perspektif dalam pendidikan anak, yaitu:

  1. Perspektif Allah: Teologi Pelayanan Anak.

Dalam Perjanjian Lama, perkembangan rohani anak terjadi sepenuhnya dalam batin, tidak terpisah dari komunitas iman. Anak-anak diikutsertakan dalam perintah harian yang diberikan oleh orang tua mereka saat melakukan tugas-tugas sehari-hari. Perintah-perintah yang Allah berikan akan diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya.

Hal ini jelas dalam Kitab Ulangan 6:6-7 sebagai berikut: ”Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini  haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” Pada zaman itu belum ada buku rohani Kristen yang dapat dijadikan bahan acuan dalam Pendidikan Kristen.

Pendidikan rohani diturunkan secara estapet dari orang tua kepada anak-anaknya secara lisan. Pendidikan itu harus menjamin penyampaian nilai-nilai moral yang penting bagi pembentukan perilaku dan karakter anak, dan itu adalah tugas utama orang tua mereka. Karena itu Allah berfirman agar orang-orang muda itu dididik sesuai dengan jalan Allah yang patut baginya sehingga pada masa tuanya pun ia tidak menyimpang dari didikan itu (Amsal 22:6).

 

  1. Perspektif kontemporer: Anak-anak Milenial Baru.

Keterbukaan informasi lewat media sosial (google, youtube, dll) telah membuka sekat-sekat komunikasi. Hal ini berdampak pada sulitnya mengawasi anak dalam hal informasi. Semuanya terbuka dan dapat diakses dengan mudah, termasuk perbuatan dan tingkah laku asusila. Pembinaan rohani anak, khususnya rohani Kristen yang dulunya ada dalam buku rohani Kristen, kini semakin kurang diminati oleh generasi muda. Mereka beralih ke media sosial. Karena itu pendidikan anak  milenial baru harus dicari formula yang tepat sesuai dengan zamannya. Ini menjadi tugas gereja yang penting.

 

  1. Perspektif Pelayanan: Menjangkau Anak-anak untuk Kristus.

Untuk menjangkau anak-anak bagi Kristus perlu diterapkan paradima pelayanan anak yang berubah dari karakteristik tradisional ke kararakteristik kontemporer dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Dikelola oleh para profesional yang berbayar.
  2. Ratio guru : murid rendah (1:5). Pada karakteristik tradisional 1:15 +)
  3. Skrining guru/pekerja signifikan.
  4. Partisipasi wajib dalam pelatihan guru.
  5. Pembelajaran dalam kelompok kecil dan aktif.
  6. Dibuat program yang menarik dan trendi.
  7. Kurikulum disusun secara khusus atau diadaptasi (M.J.Anthony, Introducing Chistian Education, Fondasi Pendidikan Abad 21, 378. Buku ini tersedia di Toko Buku Rohani Kalam Hidup di seluruh Indonesia).

 

PENDIDIKAN ANAK YANG MENCERAHKAN

Pendidikan Anak - Buku Mendidik untuk Kehidupan
10 Tongkat” (menurut Kitab Amsal) yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik anaknya

Lucius Annaeus Seneca (4 sM-65M) mengatakan Non Scholae Sed Vitae Discimus, artinya, “Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan kita sekolah untuk hidup.” Hal ini perlu diinternalisasikan dalam diri anak-anak kita. Berikan pemahaman kepada anak-anak bahwa dia belajar di sekolah adalah dalam rangka menata kehidupan yang cerah di masa depan. Dia harus berjuang sebaik mungkin, sekeras mungkin, serajin mungkin, seteliti mungkin untuk menguasai semua materi pelajaran, karena materi pelajaran itu akan memberikan dia ilmu pengetahuan yang luas, tinggi,  dan dalam, yang kelak akan digunakannya untuk hidup yang lebih baik.

            Kesadaran itu memang sudah dimiliki oleh sebagian besar orang tua. Namun bagi anak-anak masih banyak yang belum memahaminya, sehingga belajar bagi dia merupakan siksaan yang membuatnya menderita dan tidak ada gunanya. Hal ini telah ditulis dan diuraikan dengan jelas dalam buku Mendidik Untuk Kehidupan  yang diterbitkan oleh Kalam Hidup. Buku ini penting dimiliki dan dibaca oleh semua orang tua yang empunya anak. Di dalamnya antara lain ada “10 Tongkat” (menurut Kitab Amsal) yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik anaknya. Buku ini juga perlu dibaca oleh anak-anak agar dia bersemangat belajar merajut benang-benang kehidupan, mengejar asa untuk mencapai cita-cita.

 

Dr. F.Thomas Edison. M, Si.

 

Baca juga : PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK DIMULAI DARI RUMAH

Leave a comment