Skip to content Skip to footer

Membaca Buku Rohani, Mengapa Tidak?

Minat Baca

Menurut situs Kominfo.go.id,* masyarakat Indonesia itu malas membaca (apalagi buku rohani -red), tetapi cerewet di medsos. Bahkan, di laman yang sama, disebutkan juga bahwa berdasarkan data UNESCO , minat baca masyarakat indonesia itu berkisar 0,001% atau hanya 1 orang yang suka membaca dari 1.000 orang Indonesia. Padahal,  disebutkan juga bahwa dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara di Eropa. Menarik, bukan?

Buku Rohani

Berdarkan hal tersebut, meskipun belum dilakukan penelitian secara empiris, “dapat dikatakan” bahwa kurangnya minat baca juga terjadi pada buku rohani, khususnya buku rohani Kristen. Sebabnya bisa beragam, seperti tidak tertarik, malas, tidak praktis, terlalu panjang, harga mahal, tidak ada waktu, atau hal lainnya. Misalnya, ketika seorang teman ditanya mengapa ia malas membaca buku, ia menjawab bahwa yang diperlukannya hanyalah yang penting-penting dan singka. Hal itu bisa dicarinya lewat internet. Tinggal “klik” di Google kata atau tema yang diinginkan, dalam hitungan detik muncullah sederetan artikel. Baginya, itulah yang paling efektif dan efisien daripada harus membaca buku fisik secara keseluruhan.

Alasan seperti itu mungkin juga menjadi pilihan banyak orang, termasuk orang Kristen pada saat ini: masuk akal dan memang tidak salah juga sih. Minimal, teman saya itu masih membaca. Masalahnya adalah ketika banyak orang cepat menanggapi (baca: cerewet) sesuatu di medsos tanpa asupan data yang lengkap. Yang penting komen. Nyambung atau tidaknya urusan belakangan. Padahal, itu bisa menjadi persoalan jika ternyata komen itu hoaks, mengarah ke ujaran kebencian, atau menyerempet ke masalah SARA. Dengan perkataan lain, kerap kali kecepatan komen itu tidak sebanding dengan data yang harus dibaca serta dipahami lebih dahulu sebelum di-posting, atau istilah sekarang mah minim literasi.

Literasi sendiri maknanya luas. Namun, secara singkat bisa dimaknai sebagai seperangkat kemampuan dan keterampilan individu yang diperlukan untuk menanggapi persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, salah satu cara untuk meningkatkan literasi itu adalah dengan membaca buku.

Manfaat Baca Alkitab & Buku Rohani

Bagi orang Kristen, membaca Alkitab tentu merupakan sebuah keharusan. Apalagi, ia pun mau membaca buku-buku rohani. Dengan demikian, bukan hanya literasinya yang semakin bertambah, melainkan kerohaniannya pun bertumbuh, baik secara pribadi maupun dalam implikasinya di kehidupan sehari-hari (termasuk ketika bermedsos). Jadi, kalaupun, misalnya, harus “cerewet” di medos, hal itu bukan hanya berupa opini atau emosi semata, melainkan sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan dan memberikan manfaat karena berbasis data.

salah Buku Rohani yang baik untuk media sosial anda 1000 Motifasi Rohani Untuk Facebook Anda
Menolong untuk memberikan makna baru bagi orang-orang yang ada di lingkup media sosial anda.

Satu hal lagi, bagi para penikmat buku, ada sensasi tersendiri ketika ia memegang, melihat tampilan covernya, membuka halaman demi halaman, lalu mencium bau kertas ketika buku itu baru dibuka, terlebih ketika menikmati isi yang dibacanya. Jadi –entah Anda termasuk dalam kategori generasi apa pun–, membaca itu penting, apalagi membaca buku rohani. Mengapa tidak?

Sebagai penutup, saya kutipkan moto dari Penerbit Kalam Hidup, yaitu “Dengan membaca, pengetahuan bertambah, iman bertumbuh”.  

Tjev Adiparta Sairoen

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. https://www.kominfo.go.id/content/detail/10862/teknologi-masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/0/sorotan_media. Diakses pada 9 Februari 2022.

 

Baca juga : Buku Rohani Di Tengah Pandemi

 

3 Comments

Leave a comment

0/5